/* —( page defaults )— */ /* === Hide the NavBar === */ .Navbar { visibility:hidden; display: none; } /* === Hide the NavBar === */
Tampilkan postingan dengan label Feed Technology. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feed Technology. Tampilkan semua postingan

17 Agustus 2008

MUTU, Bagaimana memahami?

Konsep mutu itu sendiri sering dianggap sebagai ukuran relatif kebaikan suatu produk atau jasa yang terdiri atas mutu desain dan mutu kesesuaian . Mutu desain merupakan spesifikasi produk, sedang mutu kesesuaian adalah suatu ukuran seberapa jauh suatu produk memenuhi persyaratan atau spesifikasi mutu yang ditetapkan.
Mutu meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan
Mutu mencakup produk, jasa manusia, proses, dan lingkungan
Mutu merupakan kondisi yang selalu berubah (misalnya yang dianggap merupakan bermutu saat ini mungkin dianggap kurang bermutu pada masa mendatang).
Oleh karena itu Juran dalam Tjiptono dan Diana (1995) mengartikan mutu adalah Fitness for use, memiliki dua aspek utama:



1. Ciri-ciri produk yang memenuhi permintaan pelanggan. Mutu yang lebih tinggi memungkinkan perusahaan meningkatkan kepuasan pelanggan, membuat produk laku terjual, dapat bersaing dengan pesaing, meningkatkan pangsa pasar dan volume penjualan, serta dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi.
2. Bebas dari kekurangan. Mutu yang tinggi menyebabkan perusahaan dapat mengurangi tingkat kesalahan, mengurangi pengerjaan kembali dan pemborosan, mengurangi biaya garansi, mengurangi ketidakpuasan pelanggan, mengurangi inspeksi dan pengujian, memperpendek waktu pengiriman produk ke pasar, meningkatkan hasil dan kapasitas, dan memperbaiki kinerja penyampaian produk atau jasa. (Nababan et al 2001;Sistem Manajemen Mutu Produk)

27 Januari 2008

INdustrial Pelleting

1. Intake Semua bahan baku yang telah dipersiapkan dengan timbangan tepat dan lengkap dimasukkan mesin produksi melalui unit intake perBatch sesuai formula
2. Grinding Tahapan proses produksi untuk menghaluskan bahan baku menjadi bentuk tepung dengan tingkat kehalusan tertentu. Pada tahapan ini dilakukan pengukuran persen kehalusan hasil grinding, Apabila persen kehalusan tidak tercapai standard dilakukan penanganan bertahap
3. Mixing Proses pencampuran berbagai bahan pakan yang belum digrinding maupun bahan yang telah digrinding menjadi satu bahan yang homogen. Jenis mixer yang digunakan berupa mixer horizontal dan vertikal.Parameter yang diamati pada tahap ini adalah tingkat homogenitas bahan. Homogenitas menjadi penting karena sebagai salah satu penentu tingkat kelancaran proses dan keseragaman produk. Apabila homogenitas tidak tercapai perlu dipastikan mix timing sesuai standard.
4. Pelleting Proses pembentukan pellet dari berbagai campuran bahan yang telah halus dan homogen dengan cara dicetak dengan dies. Pencetakan disini harus memperhatikan kematangan dan gelatinasi sehingga perlu didukung steam (uap air panas) yang optimal (via direct steam dan indirect steam). Parameter yang diamati pada proses pelleting adalah perfomance fisik (potongan, aroma, warna), MC pra & post pellet, W/S (water stability); sedangkan data teknis pendukung berupa speed feeder, press steam, bukaan valve, press PRV, ampere suhu dan hygro. 5. Conditioning Conditioning adalah proses untuk lebih mematangkan pellet dan meningkatkan water stability dengan cara dikukus dalam conditioner. Target proses ini adalah pellet menjadi lebih matang Water stability harus diusahakan tercapai, apabila kurang perlu dilakukan upaya melakukan penahanan pellet diconditioner beberapa menit dengan menghidari terjadinya pakan overcook (gosong). Parameter yang diamati antara lain perfomance fisik pakan (aroma, warna, tekstur), M/C dan water stability (W/S) .
6. Cooling Proses mendinginkan pellet agar suhu pellet sama/mendekati suhu ruangan dengan menggunakan cooler. Hal ini dilakukan untuk menghasilkan pellet bebas dari jamur sehingga komponen nutrisi tidak rusak dan umur/daya simpan pellet menjadi lebih lama.

8. SieveringYaitu tahapan proses produksi untuk memisahkan pellet/pakan agar terbebas dari pollutan berupa gumpalan dan debu. Pada sievering yang perlu diperhatikan adalah saringan dipasang sesuai dengan ukuran mesh dan tidak jebol.
9 . PAckingtahapan pengemasan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan

BAhan baku PAkan

Bahan baku yang masuk gudang dikelompokkan menjadi 3 kelompok berdasarkan “asal” bahan, yaitu :1. Bahan Baku asal Hewani Tepung Ikan (Fish Meal), Bubuk Udang, Kepala Udang (Shrimp Head), Squad Liver Pasta, Silase Ikan, Minyak Ikan (Fish Oil) dsb.2. Bahan Baku asal NabatiBungkil Kedelai (Soybean Meal),Bungkil Kopra, Dedak padi , Terigu, Tepung Gaplek, Wheat Pollard dsb.3. Bahan Baku Mineral & VitaminGaram (Na Cl), Calcium Carbonate (CaCO3 ), Mono Calcium Phospate (MCP), Endox, Premix, dsb.

Quality Control

Quality merupakan wacana yang kian mengemuka saat ini; orang rela antri berjam-jam ataupun loyal terhadap suatu produk walaupun penjualannya hanya dalam quantitas yang kecil. Berangkat dari pola pikir masyarakat seperti inilah yang menjadikan dunia usaha rela mengalokasikan dana untuk menghasilkan produk yang berkualitas.Konsep gugus mutu sudah diaplikasikan, dimana QC sebagai pengendali mutu (legislatif), QA sebagai pengawas mutu (yudikatif), Produksi dan departemen terkait sebagai pelaksana mutu (eksekutif). Quality Control diibaratkan sebagai lembaga legislasi konsumen, yang mengawal/mengendalikan proses produksi agar sesuai dengan standard mutu yaitu standard yang telah menyerap aspirasi produktif konsumen tanpa mengabaikan sisi profit perusahaan. Pengendalian mutu yang optimal disetiap tahapan produksi akan menghasilkan produk kompetitif yang berorientasi pasar dan disinilah peran dari supervisor quality control.