/* —( page defaults )— */ /* === Hide the NavBar === */ .Navbar { visibility:hidden; display: none; } /* === Hide the NavBar === */
Tampilkan postingan dengan label Ngaco. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngaco. Tampilkan semua postingan

03 Februari 2009

एन्ग्काऊ diMATAKU


Dulu….Aku tak mengenal dirimu
Dulu….Aku tak pernah peduli padamu
Dulu….Tak pernah terbersit tuk “bergaul” denganmu

Kini…..Aku merasa ingin “berkenalan” denganmu
Kini…..Aku hanya diberitahu tentang kejayaanmu
Kini…..Aku hanya tahu dirimu pernah ada
Kini…..Aku ingin sedikit peduli padamu
Kini…..Aku masih menunggu kepastian darimu
Kini…..Aku sudah mulai hilang kesabaran, karena….

Esok….Aku harus pergi jauh meninggalkanmu
Esok….Tak ada lagi romantisme antara kita
Esok….Takkan lagi kita berjumpa dan bergumul mesra
Esok….Aku takkan peduli lagi padamu
Esok….Aku ‘kan temukan tambatan hati yang lain
Esok….Aku hanya akan berkata,

“Aku tak pernah mengenal apalagi bergaul dengan ‘ENGKAU’…………”


09 November 2008

HIKAYAT CINTA

Di sebuah pulau kecil yang tepat berada di tengah-tengah samudera luas dengan ombak yang besar hiduplah sekumpulan masyarakat. Mereka pada mulanya hidup dipulau tersebut dengan damai, tolong-menolong, saling membutuhkan satu sama lain serta saling melengkapi. Mereka adalah CINTA, KEKAYAAN, KECANTIKAN, KESEDIHAN dan KEGEMBIRAAN.

Hingga pada suatu ketika pulau tersebut terhempas badai yang besar berangsur-angsur akan menenggelamkan pulau tersebut. Berawal dari sinilah berbagai sifat yang melekat sebelumnya berakhir sudah, mereka lebih mengutamakan keselamatan masing-masing dengan mengabaikan yang lain. Sungguh malang nasib CINTA perahu tak disiapkan sebelumnya ditambah tidak dapat berenang, makin malang saja nasibnya.






Hanya dengan berteriak-teriak minta tolonglah satu-satunya harapannya, siapa tahu ada yang melintas dan menolong. Dari kejauhan terlihat KEKAYAAN mendayung perahunya yang penuh dengan muatan harta. “oh.. KEKAYAAN tolonglah aku” ucap CINTA. “maafkanlah aku CINTA perahuku telah penuh dengan harta benda, lagipula sudah tidak ada tempat yang tersisa aku takut nantinya tenggelam” jawab KEKAYAAN sambil berlalu dari hadapannya.

Ditinggal sendirian menjadikan CINTA sedih maka tak kuasa membendung air matanya. Saat itu CINTA melihat KEGEMBIRAAN melewatinya, lagi-lagi ia berteriak dengan keras minta tolong. Berhubung KEGEMBIRAAN sangat bahagia, senang dan gembira bisa selamat dari pulau hingga telinganya menjadi tuli tak bisa mendengar teriakan CINTA. Air laut semakin tinggi dan hampir membasahi CINTA karena air sudah sampai pinggangnya.

Keadaan CINTA makin semrawut dengah wajah acak-acakan. Dengan mendayung perahunya KECANTIKAN datang. “Wahai KECANTIKAN bawalah aku bersamamu” tampak CINTA mengiba. Tetapi apa jawaban KECANTIKAN “Hei cinta lihatlah dirimu kamu basah kotor lagi, aku takut nanti perahuku jadi kotor”. Semua telah acuh itulah kesimpulan CINTA, ia sedih meratapi nasibnya.
Kesempatan terakhir tatkala KESEDIHAN melewatinya tapi apa jawab kesedihan “ Maafkan aku CINTA aku sedang sedih aku ingin sendirian !”
Kini musnahlah sudah kesempatan baginya untuk selamat karena semua sahabatnya dulu telah melintas semua. Air makin tinggi dan menjadikan CINTA berdoa pasrah pada Tuhan atas segala nasibnya dan berharap ada keajaiban yang datang menolong.

Rupanya doa CINTA telah didengarNYA. Seorang kakek tua renta dengan jenggot dan baju putih datang dengan perahunya. “CINTA mari ikut bersamaku” naiklah CINTA ke perahunya dan diantarkan sampai daratan sudah pasti jiwanya selamat. CINTA menjadi bingung siapa kakek tua yang menyelamatkannya, dari mana dia tahu namaku ?. Didorong rasa penasaran CINTA memberanikan diri bertanya pada penduduk. “beliau adalah SANG WAKTU” jawab penduduk.

ispirated from sarikata

04 November 2008

Penguatan Posisi Masyarakat Dalam Kehidupan Politik Di Masa Depan


Berbicara politik yang kita tahu adalah usaha untuk mencapai sesuatu dengan berbagai cara yang menurut kita legal, mungkin itu definsi yang salah tapi itu yang saya tahu. Banyak rakyat negeri ini yang terkadang merasa masa bodoh dengan perpolitikan di negeri ini, mereka merasa tidak punya kekuatan atas perubahan negeri ini. Perubahan diri mereka saja tak kunjung datang.


Tetapi apabila kita kaji dan pelajari lebih lanjut sebenarnya yang menentukan yang punya kekuatan, suara, keputusan adalah rakyat. Kesadaran itu tak kunjung ada bahkan sudah tak ada setelah sekian tahun lamanya belajar. Pada masa Orde Baru ditandai dengan kekuasaan negara yang dominan (powerful) dan masyarakat yang tak berdaya (powerless). Dimana mereka berada di bawah kendali diktator dengan setiap hak untuk menentukan dengan mudahnya diambil oleh yang merasa berkuasa waktu itu.

Kini hak untuk menentukan telah kita dapat kembali 100% bahkan ada dari beberapa kita yang memperoleh itu lebih dari seratus persen. Lagi-lagi kenyataan seperti ini tetap menjadikan masyarakat tidak punya kekuatan politik, karena asal hari ini bisa makan sudahlah cukup. Para intelektual pada awal Orde Baru modernisasi Indonesia beranggapan bahwa kehidupan politik dan ekonomi adalah suatu hal yang tidak terpisahkan, dan kemajuan ekonomi sangat tergantung dari upaya modernisasi politik.

Sebenarnya ada beberapa yang mendorong ke arah penguatan posisi masyarakat dalam kehidupan politik di masa depan. Pertama, adanya peluang bagi munculnya kontrol sosial melalui pers yang bebas. Kedua, semakin besarnya tuntutan masyarakat mengenai pentingnya amandemen UUD 1945, terutama yang berkaitan dengan pembatasan kekuasaan presiden. Ketiga, kemungkinan berakhirnya “koalisi oportunisme” di antara partai pemenang pemilu, birokrasi (sipil dan militer), dan presiden yang pernah berlangsung selama Orde Baru. Keempat, merosotnya citra TNI yang diikuti semakin kuatnya tuntutan masyarakat terhadap peran militer dalam kehidupan politik. kelima, tidak adanya tokoh tunggal yang bisa diklaim ataupun mengklaim dirinya sebagai “Bapak” bagi semua unsur bangsa lantaran kontribusi dan jasa-jasanya yang dianggap luar biasa terhadap bangsa dan negara.